Selasa, 22 November 2011

PECANDU BURSA KERJA

Manusia hidup sebagian besar untuk berkarya sesuai dengan bakat dan minatnya. Karya manusia pada zaman sekarang ini selalu diasosiasikan dengan bekerja. Manusia bekerja bukan lagi untuk menandai eksistensinya sebagai manusia itu sendiri, tapi sudah bergeser tujuan menjadi pencari nafkah untuk kelangsungan hidupnya. Bahkan, manusia rela bekerja membanting tulang dan memeras keringat untuk hal tersebut.
Pada zaman teknologi dan globalisasi sekarang ini, dimana tingkat pengangguran semakin tajam, yang hal ini berakibat pula semakin tajamnya persaingan untuk mencari pekerjaan tersebut, bursa kerja seakan tidak pernah sepi dari langganan. Para langganan yang biasanya antri dalam bursa kerja tersebut kebanyakan adalah mahasiswa semester akhir atau fresh graduate, mahasiswa yang baru saja lulus. Mereka dengan ikhlas dan berbesar hati mengantri dalam bursa kerja, dari pagi hingga sore. Mereka bahkan harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit, mulai dari tiket masuk hingga  uang fotokopi kelengkapan administrasi melamar kerja.
Hal yang sangat lumrah dalam bursa kerja itu dimotori oleh sebuah event organizer yang menggandeng beberapa perusahaan yang membutuhkan para pegawai baru. Para perusahaan yang mencari pegawai baru itupun harus mengeluarkan uang khusus, mulai dari uang iklan dan uang sewa bilik dalam bursa kerja. Ternyata mencari para pegawaipun sangat sulit bagi perusahaan-perusahaan tersebut padahal jumlah pengangguran di Indonesia dari tahun ke tahun selalu meningkat dan kebanyakan pengangguran itu adalah mahasiswa.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memproyeksikan angka pengangguran pada 2009 naik menjadi 9%, dari angka pengangguran 2008 sebesar 8,5%. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penganggur pada Februari 2008 telah tercatat sebesar 9,43 juta orang. Pada data tersebut, pengangguran di Indonesia bisa dianalogikan dalam suatu lingkaran setan para pencari kerja dan perusahaan yang mencari pegawai. Lingkaran setan ini hingga saat ini belum menemukan solusi yang tepat dan benar. Hingga, bursa pasar kerja dari yang ada di koran dan di job fair selalu menjadi agenda harian yang dipenuhi oleh langganan mahasiswa pencari kerja tersebut.
Melihat kenyataan di atas, ada sedikit pertanyaan yang mengganjal dalam lubuk hati kita? Jika pengangguran yang ada di Indonesia adalah mahasiswa, maka secara logika, kita memiliki pengangguran intelektual yang sangat berlimpah. Hal ini sangat selaras sekali dengan adanya tawaran kerja yang bejibun di koran maupun di job fair.  Lalu ironisnya, pengangguran dan permintaan kerja semakin meningkat dari tahun ke tahun? Apakah berbagai perusahaan pencari kerja tersebut tidak juga menemukan pelamar yang pas? Begitu juga sebaliknya, apakah para mahasiswa pencari kerja tersebut tidak diterima kerja oleh para pencari kerja tersebut?
Ada sedikit keanehan yang dapat ditemukan dalam lingkaran setan ini. Jawaban dari keanehan itu adalah ketidakkompetennya mahasiswa dan sarjana sekarang ini. Para mahasiswa yang berebut pasar kerja ini kebanyakan mahasiswa manja yang mencoba memenuhi mimpi mereka bekerja dengan pekerjaan yang mudah, tempat kerja yang juga harus di daerahnya serta gaji yang tinggi. Pada kenyataannya,  mencari kerja bukanlah untuk memenuhi mimpi-mimpi mereka, yakni pekerjaan yang ideal. Hingga dampakya para mahasiswa itu berstatus menjadi para pencari kerja abadi, yang selalu ramai dalam bursa pasar kerja.
Kalau para mahasiswa pencari kerja tersebut menyadari, bekerja memerlukan suatu keberanian dan pengorbanan dari jiwa dan raga, maka masalah pengangguran mahasiswa yang berlarut-larut ini niscaya berkurang. Para mahasiswa dan sarjana ini berani mengarungi daerah lain untuk bekerja, seperti layaknya kita tahu tipikal orang-orang Amerika yang tidak takut pindah rumah atau daerah hanya untuk memenuhi panggilan kerja mereka. Sedangkan mahasiswa dan sarjana pencari kerja di Indonesia selalu menunggu pekerjaan impian mereka.
Kenyataan memang akan selalu pahit, tapi kepahitan itu akan berbuah madu, jika kita mencoba mengurai benang kusut dari lingkaran setan ini. Jika yang menjadi permasalahan adalah mahasiswa yang berebut pasar kerja, mengapa para mahasiswa dan sarjana ini yang notabene para intelek tidak menciptakan lapangan kerja sendiri sesuai dengan praktik keilmuan mereka? Dengan melakukan hal tersebut, mahasiswa malah akan menjadi agen penyedia pasar kerja untuk yang lain. Mahasiswa seharusnya memikirkan tentang hal tersebut dan jangan malah meramaikan bursa pasar kerja. Janganlah menjadi pecandu bursa kerja!

Mahasiswa Lupa Peran

Mengutip pernyataan Jean-Paul Sartre, bahwasanya eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (l'existence précède l'essence). Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih dari hasil kalkulasi komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia. Media kebebasan manusia yang paling nyata adalah menulis sehingga dengan menulis manusia menandai eksistensinya dan menghasilkan sesuatu dari yang telah ditulisnya itu.
Membicarakan tentang tema eksistensi, saya jadi teringat oleh eksistensi sosok manusia yang kritis dan membawa dampak positif bagi lingkungan terdekatnya hingga negaranya. Manusia yang ingin saya bahas disini adalah mahasiswa. Mahasiswa adalah manusia yang paling tidak menjadi motor sebuah gerakan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat, menghasilkan sesuatu. Tulisan tentunya menandai eksistensi mereka sebagai figur intelektual. Tapi, pada kenyataannya mahasiswa yang seharusnya menjadi manusia intelek yang bisa dimintai bantuan soal keilmuan seolah acuh tak acuh mengenai hal tersebut. Mahasiswa sekarang ini lebih berasyik masyuk dengan kegiatan main play station, pacaran, nonton film, futsal, dan lain-lain. Hal yang dilakukan mahasiswa tersebut berbeda sekali dengan mahasiswa pada zaman 1970-an dan 1980-an.
Pada zaman tahun 1970-an, masyarakat Indonesia digegerkan oleh catatan seorang mahasiswa demonstran asal Universitas Indonesia bernama Soe Hok Gie. Gie adalah salah satu sosok mahasiswa yang menandai eksistensinya dengan menulis yang didalamnya berisi hal-hal yang sedang dialaminya. Mungkin secara sekilas membuat catatan adalah hal yang paling remeh dan tidak penting, tapi pada kenyataannya, sebuah catatan bisa menjadi referensi sejarah masa lampau, mengecek kebenaran yang mungkin mulai membengkok. Jika kita membandingkan mahasiswa sekarang dan zaman dulu, maka sungguh bagai ujung rambut dan ujung kaki. Mahasiswa dahulu rajin mengkaji keilmuan mereka dengan diskusi, membaca buku, dan menulis, sedangkan mahasiswa sekarang mungkin belum pernah melakukan hal itu semua, kecuali jika tidak ada tugas mata kuliah yang mewajibkannya. Sungguh ironi yang memedihkan.
Menarik apa yang dilakukan Gie dalam membuat catatannya yang dimulai pada usia 15 tahun, setiap hari. Ia menulis apa saja yang dialaminya. Catatan harian pertamanya bertanggal 4 Maret 1957, ketika ia masih duduk di kelas 2 SMP Stada. Sedangkan catatan terakhir bertanggal 10 Desember 1969, hanya seminggu sebelum kematiannya. Catatan tersebut menulis tentang kritik kerasnya tentang rezim Orde Baru dan pemerintahan Soeharto. Gie berjuang melalui tulisan dan catatan-catatannya. Sungguh Gie adalah tokoh yang menginspirasi.
Mahasiswa lain yang berjuang melalui catatannya adalah Ahmad Wahib. Ia adalah mahasiswa angkatan 1980-an yang juga menulis seperti Gie. Ahmad Wahib adalah seorang mahasiswa yang budayawan dan pemikir Islam. Semasa hidupnya yang singkat banyak membuat catatan permenungan yang juga telah dibukukan dalam Pergolakan Pemikiran Islam. Dalam catatannya, Ahmad Wahib berusaha mencatat hal-hal apa saja yang membuat resah, gelisah dan mengganggu alam pikirannya. Wahib menulis hal yang sepele, tapi menjadi sebuah perenungan kita semua. Seperti catatannya yang bertanggal 6 Juni 1969: “Aku tidak mengerti keadaan di Indonesia ini. Ada orang yang sudah sepuluh tahun jadi tukang becak. Tidak meningkat-ningkat. Seorang tukang cukur bercerita bahwa dia sudah 20 tahun bekerja sebagai tukang cukur. Penghasilannya hampir tetap saja. Bagaimana ini?” Catatan ini mungkin hal remeh, tapi hal ini adalah refleksi kebebasan manusia yang dimiliki oleh Wahib. Ia dengan kejujuran hati dan kemurnian jiwanya menulis hal-hal sepele yang kadang kala kita tidak pernah memperhatikannya ataupun merenungkannya. Hal yang juga jadi bagian refleksi kemanusiaan dan kekritisannya yang terusik melihat realitas kemiskinan yang menjamur dan tidak jua menemui solusi penyejahteraan. Mereka dalah korban dari janji wakil-wakil kita di DPR maupun di MPR pada masa itu.
Catatan Ahmad Wahib itu merupakan suara hati murni seorang manusia yang tidak tega melihat ketidakadilan di depan matanya. Catatan ini juga hampir senada dengan catatan Soe Hok Gie. Catatan mereka penuh kejujuran mengenai realitas masyarakat yang terjadi pada saat itu sehingga ketika kita membaca kedua catatan tersebut waktu seolah terhenti dan catatan tersebut seperti mencambuk dan menyadarkan kita akan pentingnya kepekaan individu dan keberanian menyuarakan hal-hal yang jujur dan benar.
Lain halnya dengan sebuah catatan yang akhir-akhir ini menjadi best seller di toko-toko buku seluruh Indonesia. Catatan tersebut berjudul Catatan Anak Kos Dodol. Catatan tersebut merupakan catatan dari seorang mahasiswi yang menghuni sebuah kos. Untuk selengkapnya catatan tersebut berkisar tentang gaya hidup mahasiswi masa kini yang sarat akan muatan kehidupan yang sudah teracuni oleh faham kapitalistik. Semuanya berkisah tentang mahasiswi yang ingin cantik dan bergaya trendi, ingin selalu gaul dan menambah wawasan, ingin bertubuh indah dan makan enak-enak tanpa khawatir melar, ingin kencan atawa jalan-jalan, dan lain-lain.
Entah zaman yang sudah berubah atau karakteristik mahasiswanya yang memang sudah sangat berbeda sekali. Karakteristik mahasiswa yang pada tahun 1970-an dan 1980-an sarat dengan kehidupan yang keras karena masa-masa itu memerlukan banyak kritik yang membangun. Mahasiswa pada saat itu menjadi sentra pengawas jalannya pemerintah supaya tidak melenceng. Perjuangan mahasiswa pada masa itu juga tidak sering dimuati oleh kepentingan-kepentingan politik pragmatis. Sedangkan catatan anak kos dodol yang merupakan salah satu representasi catatan mahasiswa zaman sekarang, serasa sangat jompling,  entah dari isi dan makna. Apakah ini pertanda bahwa mahasiswa sedang mengalami krisis yang parah?

KESEMUAN IDENTITAS MAHASISWA

Ada sebuah cerita menarik ketika duduk menunggu sarapan pagi di pojok kantin. Terlihat ada seorang mahasiswa memakai jas BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) sedang makan. Tas ditempeli pin fakultas dan organisasi kemahasiswaan. Saya berpikir, dia pasti mahasiswa yang rajin dan sangat cinta akan fakultas serta organisasinya. Melihat berbagai simbol itu membuat saya segan dan kagum. Perasaan itu timbul dan tiba-tiba hilang setelah berpikir ulang dan bertanya pada diri sendiri: “Apakah judgment itu benar jika hanya didasarkan pada pakaian dan pin?
Mari mencoba menelisik perkara itu untuk mengkritisi mahasiswa di negeri Indonesia. Banyak mahasiswa memakai jaket organisasi untuk kebanggaan atau menyatakan identitas. Jaket ternyata mengandung banyak hal tentang diri mahasiswa. Mengetahui identitas hanya dengan pakaian, jas, atau pin sering menipu kita. Belum tentu para mahasiswa itu aktivis, pintar, dan memiliki komitmen dalam studi. Maraknya mahasiswa sekarang ini yang berbondong-bondong memakai identitas universitas dan organisasi menandakan gejala apa? Inikah konstruksi identitas mahasiswa yang pramatis atau sesungguhnya?
Definisi identitas adalah simbolisasi ciri yang mengandung diferensiasi dan mewakili citra. Identitas dapat berasal dari sejarah, visi atau cita-cita, misi atau fungsi, tujuan, strategi atau program. Berbicara mengenai identitas sebenarnya itu adalah sebuah definisi diri dan itu bisa diberikan oleh orang lain. Pelacakan identitas akan menerangkan tentang siapa kita, karena pelacakan identitas adalah upaya pendefinisian diri, baik definisi dari orang lain maupun dari kita sendiri.
Lalu apakah sebuah jaket, pin, stiker, dsb itu dapat membangun citra kita sebagai mahasiswa yang seharusnya berpikiran terbuka dan intelektuil? Atau apakah sebuah jaket, pin, stiker, daan lain-lain itu akan mewakili citra mahasiswa yang merupakan kedok semata agar terlihat eksis di dalam lingkungan pergaulan di kampus? Saya lama-lama jadi heran sendiri, mengapa kebanyakan mahasiswa sekarang ini mengalami pergeseran makna tentang sebuah identitas diri mereka?
Mungkin, karena secara tidak langsung saya juga mengkritisi diri saya sendiri. Jujur, saya baru menyadari kewajiban secara luas sebagai mahasiswa baru pada akhir perkuliahan. Dulu, mungkin saya seperti kebanyakan mahasiswa pada umumnya. Menggunakan identitas semu yang dilegalkan sebuah institusi. Kesemuan itu dibuktikan dengan aktivitas suka jalan-jalan daripada menekuri buku, suka menggosip daripada berdiskusi. Kesemuan yang membuat mahasiswa lupa dengan peran  akademik dan sosial.
Konstruksi identitas mahasiswa yang semu sesungguhnya harus dirombak secara massal dan dengan pemahaman yang benar serta sederhana. Perwujudan stiker, jas organisasi, gantungan kunci, pin, kaos, dan lain-lain hanyalah sebuah strategi gaya hidup. Contoh menarik dalam pemaknaan jas adalah penggantian jas almamater ITB. Penggantian jas tersebut bukan karena suatu hal iseng tapi ada berbagai faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, terutama berkaitan dengan pengasahan kemampuan wirausaha dari universitas atau organisasi tersebut. Mereka menyebutnya  entrepreneurial mindset, entrepreneurial mindset. Ini adalah sebuah pemikiran yang berani mengambil calculated risk. Kreatif, karena tidak dibatasi oleh pilihan yang ada, akan tetapi membuat pilihan baru bagi dirinya dan masyarakat sekitarnya. Memiliki kebanggaan terhadap yang dimilikinya dan inovatif adalah makna dari jas almamater.
Selain entrepreneurial mindset, mereka juga mengusung apa yang dinamakan sebagai kolaborasi. Kolaborasi diartikan menjunjung sistem cross-knowledge yang bertujuan meningkatkan kualitas produk dan jasa yang ditawarkan. Kolaborasi internal terdiri dari seluruh pihak yang memiliki latar belakang knowledge yang berbeda. Sedangkan kolaborasi eksternal merupakan kolaborasi triple-helix: akademisi-pemerintah-pelaku bisnis. Tujuan utama dari kolaborasi ini adalah meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia secara umumnya. 
Jadi, sekarang sudah cukup jelas bagi kita bahwa perwujudan pin, stiker, jas organisasi dan almamater, kaos, gantungan kunci, dan lain-lain adalah strategi kesemuan sekaligus proses pemaknaan yang sebenarnya menyadarkan identitas mahasiswa. Kita memerlukan strategi dan cara pemaknaan yang kritis agar para mahasiswa tidak lagi arogan dan berbangga diri dengan berbagai simbol itu, padahal semu. Segala simbol bisa saja terus ada, tetapi harus diimbangi dengan bukti, argumentasi, dan tindakan nyata. Kesemuan identitas mahasiswa melalui simbol-simbol itu harus dirubah demi menjaga martabat diri. Identitas harus diperjuangkan dan dibentuk, tidak hanya diciptakan melalui hal-hal yang bisa dibeli, dipesan, lalu dikenakan di mana saja, kapan saja. 

IBU MENYUSUI DAN IRONI PEREMPUAN MODERN

Ibu, suatu kata yang akan membuat kita tersentuh, karena akan mengingatkan kita pada seorang perempuan yang lembut dan tangguh, yang menjadi sumber kehidupan, cinta dan kasih di kala kita masih janin, bayi, anak-anak dan bahkan sampai kita dewasa. Ibu, sosok yang tanpa pamrih melakukan hal-hal heroik, yang mungkin hanya tuhan yang tahu. Hal-hal yang membuatnya kerepotan, bertukar nyawa sekalipun dalam merawat, mendidik kita sehingga kita menjadi manusia yang baik dan benar.
Namun, ibu yang pada zaman dahulu mempunyai peran sangatlah dominan dalam mengasuh, mendidik dan membesarkan anaknya, kini bergeser pada sebuah ironi kenyataan yang mengatasnamakan “keprofesionalitasan” manusia karier di  zaman modern seperti ini. Ibu sepertinya sekarang mempunyai peran ganda, antara keluarga dan karier dalam pekerjaan. Peran ini sesungguhnya tidaklah menjadi sebuah masalah. Namun, jika pelaksanaannya tumpang tindih dan tidak seimbang, maka ini akan menjadi sebuah masalah yang besar.
Peran ganda dari ibu yang juga seorang perempuan karier ini memang tidak pernah lepas dari sejarah masa lalu di mana perempuan selalu dipingit dan tidak diperkenankan merambah dunia pekerjaan, yang pada waktu itu selalu diasosiasikan dengan dunia lelaki. Perempuan seakan gerah dan sudah bosan dibodohi, hingga tiba waktunya kaum perempuan menggelorakan emansipasi sejak awal abad ke-20. Kartini mengangkat ketidakadilan ini ke permukaan, ke ranah publik yang dulu mencemooh dan mengamini seluruh tindakan perpingitan bagi perempuan. Kartini sesungguhnya tahu betul bahwa jika keadaan ini berjalan terus menerus, maka posisi perempuan akan semakin tertindas, bahkan setelah sistem patriakhi sudah mendarah daging di masyarakat. Perempuan terkesan hanya menjadi penghibur dan penghasil anak tanpa tahu kehidupan luar seperti apa. Di Jawa saja, banyak ungkapan mengejek jika perempuan berani melangkahkan kaki keluar rumah.
Terkait keadaan perempuan yang dulu terbelenggu dan sekarang sudah mendapat secercah, bahkan segelondong harapan, perempuan di zaman sekarang malah seperti kehilangan jati dirinya, karena terlalu beradaptasi dengan dunia luar itu sendiri. Dunia dalam yang melatari kodrat perempuan seakan-akan makin memudar dan mungkin hampir hilang kejatidiriannya. Hal ini diperkuat dengan adanya dan banyaknya gerakan perempuan ingin menyamakan posisinya seperti lelaki. Keinginan itu sah-sah saja, tapi ketika perempuan itu sendiri sudah melupakan kodratnya sendiri untuk mengasuh dan mengurus keluarganya, maka akan lain persoalannya.
Baru-baru ini dalam berbagai  surat kabar di Indonesia digegerkan dengan adanya suatu gerakan dari pemerintah untuk para ibu. Program itu dinamai program ibu menyusui nasional. Program ini digalakkan le seluruh daerah di Indonesia. Kalau kita menelisik lebih dalam tentang latar belakang pencanangan gerakan itu, maka kita akan menyadari bahwa peran ibu dalam dunia modern ini sungguh sangat ironis.. Bukankah kita semua tahu, kodrat perempuan memang menyusui anaknya selama 2 tahun, sebelum anak itu disapih? Tapi karena tuntutan pekerjaan dan berbagai mitos yang tidak masuk akal, membuat para ibu memberi anaknya susu kaleng. Para ibu modern itu berdalih bahwa kalau menyusui itu nanti payudaranya kendorlah, menghalangi program diet mereka setelah melahirkanlah, tuntutan pekerjaanlah. Akhirnya ada ibu  yang rela meninggalkan anak mereka untuk diasuh baby sitter. Sungguh ironi sekali. Lalu apakah hal ini yang dinamakan peran ibu sesungguhnya, jika menyusui saja para ibu sudah alergi??
Kalau kita pahami dan teliti lebih dalam, sebenarnya kodrat perempuan yang sudah dituliskan berabad-abad silam itu, khusunya dalam hal ini menyusui merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kaum ibu itu sendiri, dan seharusnya ibu-ibu modern sekarang ini bersikap cerdas dalam segala hal termasuk dalam hal menyusui anak mereka. Fakta di lapangan tentang ibu menyusui menyebutkan, bahwa dengan menyusui para ibu sudah memperkecil risiko terkena kanker payudara, darah tinggi, diabetes, kolesterol, dan penurunan berat badan setelah melahirkan.
Jadi, sangat bodoh jika para ibu menghentikan menyusui anak mereka dengan dalih-dalih tidak masuk akal. Lagipula, anak yang disusui sendiri oleh ibunya cenderung lebih cerdas dan sehat. Bukankah Tuhan memang sudah mengatur peran ibu sedemikian rupa, jika ibu itu sadar dan paham akan hal itu? Jangan hanya dengan dalih profesionalisme pekerjaan dan tuntutan peran ibu modern, maka para ibu tidak peduli lagi tentang buah hati mereka. Bukankah hal-hal terbaik pantas diberikan kepada mereka, para bayi generasi penerus bangsa?

UNGU KELABU

Aku berenang dalam ungu kelabu
Masuk kedalam lebih dalam
Mataku perih, kaporit ungu kelabu
Masuk kedalam lebih dalam
Ah aku tak lagi mau berenang
Dalam ungu kelabu
Atap hatiku retak, puing-puing berjatuhan
Sungguh aku tak lagi mau
Ungu bahkan kelabu!

PANCARAN ILAHI

Aku meringkuk dalam gelap
Tertawa, sombong, tak sadar
Aku berjalan dalam gelap
Masih juga tertawa, sombong, dan tak sadar…
Hujan cahaya buatku murka
Buatku hilang akal dan tambah tak sadar…
Aku juga bahkan benci pada pancaran cahaya,
Itu bikin sakit mata!!
Sebongkah pancaran ilahi menyabet
Keningku hingga isi kepalaku
Aku linglung…
Metamorfosa berputar, buatku jadi dia
Dia yang baru…

MENYATU

Tubuh menjelma tanah
Tulang menjelma belatung
Massa menjelma kenangan
Kenangan menjelma luka penuh nanah

Andai abah masih disini
Tersenyum ranjang dingin
Hanya gerak dan bisikan
Lamat-lamat tersirat

Andai abah masih disini
Tersenyum menitih mimpi
Pada kuncup daun yang siap mekar
Pada dunia yang semakin kekar

Andai abah masih disini
Menyatu mata membisikkan surga
Pojok ranjang tetap tak bicara
Namun tahu apa yang ada…