Kamis, 09 Mei 2013

Kepada Kamu:


Tahukah kamu? Aku terbangun pagipagi buta hanya untuk tibatiba teringat padamu, diatas tuhanku. Aku membuang jauhjauh pikiranku tentangmu. Tapi pikiran itu seperti psikopat yang membuntutiku. Aku takut. Kenapa kamu menguasaiku, bahkan saat aku bangun. Kamu merampok fokus eksistansi tubuh dan pikiranku. Padahal kamu hanya sekedar imaji saja. Imaji-imaji yang beterbangan memenuhi isi kepalaku. Emosiku bercampur. Aku senang, sedih, marah, rindu. Mengapa hanya kamu yang terbayang? Bukankah idealnya aku membayangkan dan memikirkan mamaku, kakakku, adikadikku, kakak iparku dan keponakanku yang baru lahir. Tapi kenapa hanya kamu? Aku tutup pikiranku seperti aku menutup tubuhku dengan selimut. Aku berguling kesana kemari. Berusaha menghentikan laju pikirku yang semakin deras akan dirimu. Aku bahkan berpikir bahwa aku sudah gila. Mantramantra pemusnah pikiran sudah kuucap ribuan kali, tapi imajimu tetap disana.
Tahukah kamu? Setelah serangan imajimu bertubi-tubi meneror pikiranku. Aku sekarang pasrah. Aku menyerahkan jiwa dan pikiranku padamu. Kalau tidak cukup, tubuhku boleh kau ambil. Aku akan rela menjadi hambamu.
Tahukah kamu? Aku ingin merogoh isi kepalamu dan melihatnya. Aku ingin tahu, apakah kamu memikirkanku secuil saja? Iya, secuil saja. Aku tidak meminta banyak. Aku mafhum. Kamu adalah sosok terindah dan termengerikan yang pernah kukenal. Kenapa tak kau lukai saja aku dengan katakata kasar atau bendabenda tumpul yang sering digunakan penjahatpenjahat itu? Bukankah itu lebih mudah. Aku akan segera bisa menghapusmu dalam diriku (mungkin). Pikiranku akan punya banyak alasan untuk menghapus namamu, meski pikiran tentangmu hanya sekedar melintas, tak sampai duduk dan menyapa.
Sungguh.. tahukah kamu? Aku sepertinya telah menjadi gila karena kamu. Kamu harus bertanggung jawab! Seandainya aku bisa mengatakan dengan lantang padamu. Ya, kamu harus bertanggung jawab atas kegilaanku! Kegilaanku karena kamu, karena kamu memenuhiku. Sekarang, aku bahkan bisa merasakan perasaan Eng Tay, perasaan mencintai namun hanya bisa melihat dari jauh. Hanya bisa tersenyum meski saat itu jiwaku bahkan sudah melompat memelukmu erat.
Tahukah kamu? Sekarang aku harus bersimpuh pada tuhanku karena menomorduakannya setelahmu. Apa kamu puas? Eksistensimu mengobrakabrik tatanan jiwaku yang sudah mapan, bahkan pada tuhanku. Aku ingin saja bersikap brutal. Membeberkan semua fakta tentangmu didalam isi kepalaku dan mengakhiri semuanya. Tapi apakah itu cukup? Bukankah faktafakta kadang terlihat bohong. Apa aku harus memintamu membelah hatiku? Sehingga kamu bisa yakin bahwa faktafakta yang kubeberkan semua adalah benar. Ahhh.. entahlah.
Kamu.. iya kamu! Pada akhirnya aku tidak bisa berbuat apapun tentangmu. Aku hanya bisa memandangmu. Dan hanya dengan itu, duniaku terasa damai. Apa kamu titisan nirwana? Hingga kedamaian bisa menelikungku hanya dengan memandangmu. Tapi entahlah dan sudahlah.. teriakan jiwaku nanti pada akhirnya akan menjangkaumu. Cepat atau lambat. Dan ketika kamu sudah mendengarnya, kuharap warna hati kita sama. Dan tuhan mengijinkan kita untuk menyatukannya. Hanya itu, iya hanya itu! Itu sudah teramat cukup bagiku.

Avala. 10.5.2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar