Selasa, 22 November 2011

BUKU: SEBUAH KEKUATAN IMAJINASI

Kehadiran buku di tengah-tengah kita selalu memberi warna tersendiri, terlebih lagi mereka yang memang mencintai dan selalu menyempatkan diri membaca buku di setiap kesempatan luang. Menurut anggapan kebanyakan orang, membaca buku adalah hal yang membosankan dan tidak menantang sama sekali. Bahkan, kehadiran deretan buku yang tebal maupun tipis dapat  membuat pening kepala. Buku ditengarai akrab hanya sebatas tuntutan formal pendidikan, yang kadang mewajibkan membeli buku tertentu. Walaupun, pada akhirnya nasib buku akan menjadi pengganjal kepala saat tidur atau sebagai benda pajangan intelektual yang bisa mengisyaratkan tipikal si pemilik yang citranya bermental pintar, cerdas, cerdik, dan cendikia.
Anggapan masyarakat tentang buku yang demikian agaknya menjadi kesalahan yang terus dipelihara hingga sekarang. Kesalahan ini diduga karena masyarakat Indonesia menurut sejarahnya mengidap gegar teknologi yang bertubi-tubi. Masyarakat Indonesia sebelum memasuki peradaban televisi, belum sepenuhnya mapan dalam situasi kultur membaca. Sehingga, ketika peradaban televisi masuk ke Indonesia masyarakat seperti terlupa tentang kultur membaca buku. Hal ini berlainan sekali dengan masyarakat Eropa. Di sana fase teknologi datang dengan interval jarak kehadiran yang tidak beruntun. Sehingga, masyarakat Eropa sebelum memasuki peradaban televisi, diawali dulu dengan peradaban membaca yang menjadi sebuah kultur di sana, dari masyarakat lapis bawah sampai atas. Sehingga, hal ini bisa kita simpulkan bahwa buku mempunyai peran penting di sana.
Persentuhan Pertama
Ketika mengingat kembali masa lampau mengenai persentuhan pertama saya dengan buku, saya menggolongkan persentuhan ini ke dalam persentuhan yang terlambat. Jika persentuhan saya lebih cepat, seperti layaknya riwayat-riwayat hidup orang besar yang sudah menyentuh buku pada usia-usia dini, mungkin saya tidak akan merasa serugi ini. Saya merasa rugi karena saya menyadari bahwa buku adalah sebuah pengantar ke dalam berbagai imajinasi, dari jinak hingga liar, serta setiap persentuhan-persentuhan dengan buku selalu meninggalkan bekas indah dalam ingatan.
Saya ingat sekali persentuhan saya dengan buku adalah ketika saya berada di kelas 2 sekolah menengah pertama. Dalam masa-masa tersebut teman akrab saya mengenalkan saya dengan buku bacaan bergambar (komik) yang lucu, temanya pun beragam mulai dari cinta, perang, legenda, humor, dan lain-lain. Setelah perkenalan dengan komik tersebut, saya merasakan bahwa dunia di sekeliling saya berubah menjadi berbagai warna. Cara pandang saya pun berubah. Selanjutnya, persentuhan saya mengalami fase yang lebih tinggi, saya diperkenalkan dengan buku kelas dunia, yaitu Harry Potter. Awalnya, saya sangat mencibir dan menghina sekali teman saya yang sangat suka buku Harry Potter yang tebal. Namun, karena paksaan dan rasa penasaran saya, kenapa buku Harry Potter banyak disukai teman. Maka, saya pun menantang diri untuk membaca buku tersebut. Tak dinyana, ternyata saya khatam buku Harry Potter hanya dalam satu malam. Saya merasakan perasaan yang lebih campur aduk ketika membaca buku Harry Potter dibanding ketika saya selesai membaca komik. Sejak saat itu, saya menyukai sensasi imajinasi yang tumbuh dalam diri saya ketika membaca buku fiksi, Hal itu pula yang membuat saya kemudian mulai merambah buku-buku fiksi yang lain. Saya bahkan mulai saat itu rajin mengunjungi perpustakaan sekolah kala istirahat, pukul sembilan pagi dan dua belas siang. Buku menjadi agen pengantar dunia dan pengaktif bagian-bagian otak yang terdiam sekian lama.
Pengantar Kekuatan Imajinasi
Semakin saya bertumbuh, semakin saya sadar dan yakin bahwa buku bukanlah hanya sekadar buku yang terdiri dari kertas-kertas. Makna buku melebihi sajian fisik yang terpapar selama ini. Buku merupakan kekuatan terpendam yang harus diaktifkan melalui pembacaan berkala. Hal ini seperti diungkapkan dalam sebuah novel yang berjudul Libri di Luca karya Mikkel Birkegaard, sebuah novel tentang perkumpulan rahasia pecinta buku.
Novel ini bercerita mengenai orang-orang yang memiliki kekuatan istimewa untuk memengaruhi pikiran dan perasaan orang lain saat mereka membaca buku. Orang-orang tersebut bukanlah penulis dari buku yang sedang mereka baca, melainkan para lektor (anggota perkumpulan rahasia pecinta buku). Lektor adalah sesuatu yang dilahirkan pada diri seseorang, bukan sesuatu yang bisa dipelajari atau bahkan diinginkan. Di tangan pembacaan para Lektor, buku bisa menggoda kita dengan cerita dengan imajinasi yang mengagumkan, menjadikan dunia yang ada di dalam buku terasa begitu nyata. Namun, para Lektor juga bisa menjerumuskan kita untuk memikirkan apapun yang mereka inginkan. Di tangan mereka, buku bisa menjadi senjata.
Kutipan yang paling menarik dalam Libri di Luca, “Buku tidak mempunyai arti tanpa pembaca. Namun, ketika semua orang di sekelilingmu mulai membaca, semua kata-kata dan kalimat bertebangan di udara seperti butiran salju di badai salu. Mereka akan bercampur baur, menyatu dalam kalimat yang tidak bisa dimengerti, kemudian berpisah dan menyatu dalam kata-kata dan kalimat baru yang akan membuat gila jika mencoba menemukan artinya.” Selanjutnya, “Tulisan tanpa pembaca tidak bisa berbicara. Dibutuhkan seorang pembaca dan tulisan itu akan berbicara. Tulisan-tulisan itu akan menyanyi, berbisik, bahkan berteriak.”
Sungguh kehadiran sebuah buku adalah manifestasi kekuatan imajinasi untuk manusia-manusia yang ingin mempergunakannya dan mengambil manfaat darinya. Lalu, bagian manusia apakah kita? Mempergunakan dan mengambil manfaat buku atau membiarkan buku tergeletak dan terluka?, entahlah.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar