Selasa, 22 November 2011

PENOKOHAN PEREMPUAN DALAM KOMIK

Dunia buku menawarkan kepada kita alternatif-alternatif media yang bisa kita akses secara mudah untuk memuaskan minat baca kita. Media-media buku yang bisa kita akses sangat beragam bentuknya, mulai dari pembagian buku menjadi fiksi dan non fiksi, Koran, majalah, jurnal, komik, dll. Media yang paling menarik dan banyak diakses oleh para generasi muda sekarang ini adalah komik. Komik sangat diminati karena komik menyatukan dunia tulisan dan dunia gambar. Semula yang biasanya kita bebas berimajinasi jika membaca buku maka saat kita membaca komik, imajinasi kita tidak perlu susah-susah kita gambar karena sudah dihidangkan sedemikian rupa oleh para komikus. Hal ini menjadikan komik media yang sangat digemari oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.
Komik yang beredar di Indonesia menurut pengalaman baca saya sebagai pembaca komik, terbagi menjadi dua yaitu komik timur dan komik barat. Cakupan komik timur adalah komik-komik yang dihasilkan dari Negara-negara timur, seperti : Indonesia, Jepang, Korea, Taiwan, dll. Sedangkan komik barat adalah komik yang dihasilkan oleh Negara-negara barat, khususnya amerika.
Dalam dunia perkomikan yang telah saya kenal sejak remaja dulu, tepatnya SMP kelas 1, dunia komik adalah dunia yang berwarna-warna, bentuk dari imajinasi manusia yang tanpa batas. komik menawarkan kepada kita beragam imajinasi yang mungkin tidak kita pikirkan sebelumnya.
Contoh ragam komik yang sudah menjadi budaya massa di masyarakat kita sekarang ini adalah komik-komik keluaran jepang atau yang kita sering menyebutnya manga dan komik amerika terbitan marvel komik. Dalam komik jepang (manga) dan komik amerika beragam cerita disajikan, mulai dari action, drama romantic, detektif, petualangan, superhero, dll.
Bagian komik yang sangat menarik adalah penokohan yang juga ditunjang oleh jalinan cerita yang bagus. Penokohan dalam komik jepang (manga) dan komik amerika kebanyakan menghidangkan imaji tokoh perempuan. Imaji tokoh perempuan ini dibuat sangat berbeda dari dunia nyata, imaji perempuan dibuat sedemikian sempurnanya sehingga kadang ketika kita ingin mencontoh perempuan dalam komik kita harus rela diet ketat, olahraga teratur bahkan operasi plastik.
Tokoh perempuan dalam komik menjadi isu penting untuk dikaji ketika hal ini disinggungkan oleh teori-teori feminis yang sangat semarak sekarang ini. Tokoh perempuan dalam komik selalu digambarkan menjadi tokoh pendamping (sidekick) atau bumbu sedap yang dapat memeriahkan dan menghidupkan suasana komik. Contoh nyata bisa kita lihat dalam komik terkenal spiderman, dalam komik ini diceritakan bahwa spiderman mencintai mary jane sejak dulu karena rumah mereka bersebelahan, namun spiderman tidak sanggup untuk menyatakan cinta karena merasa dirinya lemah dan tidak layak bagi mary jane. Dalam cerita komik spiderman ini kita bisa lihat bahwa tokoh wanita hanya sebagai pemanis, bumbu sedap bagi komik ini sehingga menjadi magnet utama agar pembaca setia dan rutin mengikuti perkembangan komik ini.
Kasus paradoks tokoh perempuan dalam komik banyak ditemukan dalam genre komik pahlawan super (superhero) keluaran amerika. Para tokoh-tokoh perempuan itu selalu bisa kita temukan dalam komik-komik pahlawan super itu, namun fungsi mereka sudah meragukan sejak awal. Bradford Right menyebutkan : “fungsi utama dari kehadiran wanita-wanita (di buku komik dahulu) adalah menolak perasaan cinta dari alter ego pahlawan super, mendambakan sang pahlawan super, berusaha agar dekat dengannya, mengacaukan segalanya, ditangkap penjahat dan menunggu untuk diselamatkan oleh pahlawan super.”
Fungsi dan peran tokoh perempuan dalam komik sudah dimarginalkan sejak awal hingga akhir cerita. Namun, muncullah Wonder Woman, karakter tokoh perempuan yang mengubah semua itu. Wonder Woman diciptakan oleh seorang psikoterapis (ahli kejiwaan) yang peduli tentang marginalisasi gadis-gadis muda dari media buku komik yang sangat populer. Wonder Woman menggabungkan kekuatan dan keterampilan , tenaga dan senjata untuk melengkapi kekuatan mendominasinya. Setelah itu berturut-turut muncul banyak pahlawan super yang lain, seperti : Cat Woman, The Wasp, Elektra, Invisible Girl, dll. Paling tidak komik-komik amerika keluaran marvel komik selalu menyertakan pahlawan super wanita untuk menjadi pelengkap.
Wanita-wanita dalam buku komik banyak sekali digambarkan menyerupai fantasi-fantasi para lelaki. Wanita dalam buku komik selalu memakai kostum ketat, dengan tubuh yang tinggi semampai, dada berisi, wajah cantik, bokong seksi, dan penggambaran sempurna lainnya. Walaupun pada kenyataannya jika kita membayangkan adegan perkelahian pahlawan super wanita sedang berkelahi dengan kostum ketatnya itu mustahil akan menang karena sangat susah berkelahi dengan kostum ketat yang menempel dikulit. Namun, penggambaran tokoh wanita yang seperti itulah yang justru dipertahankan oleh para komikus, strategi penggambaran tokoh wanita seperti itulah yang terbukti disukai oleh para pembaca yang dengan sukarela mengesampingkan kesangsiannya bahwa serangan dan pertahanan yang terbaik adalah selapis tipis kain spandeks.
Sungguh memprihatinkan, ternyata tokoh perempuan dalam komik walaupun sudah mengalami perjuangan sedemikian rupa tetap mendapat porsi superficial. Penggambaran tokoh perempuan perlu mendapat insentif dukungan yang lebih. Apa kita rela imaji keperempuanan kita yang semestinya bisa kita ciptakan dengan lebih baik dirampok habis-habisan oleh para komikus yang berkarya berdasarkan fantasi-fantasi liar mereka yang juga seorang lelaki? Semoga saja tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar