Selasa, 22 November 2011

Kampus, Masihkah Memiliki Spirit Keilmuan?

Merujuk pada jejak historis Yunani mengenai asal usul keilmuan yang pertama dikenal oleh manusia, sekitar abad ke-5 sebelum masehi, ada sebuah perdebatan mengenai teori ilmu pengetahuan (epistemologi). Para sofis mempertanyakan tentang kebenaran yang bisa dipegang dan obyek dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Gorgias membantah bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar ada, jika sesuatu itu ada maka sesuatu itu tidak dapat dikenal dan jika ilmu pengetahuan itu memungkinkan, hal ini tidak dapat dikomunikasikan. Protagoras mengungkapkan bahwa tidak ada pendapat yang lebih benar dari pada yang lain karena seseorang berpendapat berdasarkan pengalaman-pengalaman hidup mereka masing-masing. Plato juga berpendapat, mengikuti ajaran dari gurunya, Sokrates. Dia mencoba menjawab pertanyaan para sofis dengan berhipotesa bahwa keberadaan dunia yang tidak berubah dan dengan bentuk yang tidak terlihat (ide) tentang bagaimana hal ini mungkin menjadi ilmu pengetahuan yang benar dan pasti.
Pada era abad ke-21 ini, pembelajaran manusia untuk mendapat ilmu diatur dalam sebuah sistem pendidikan. Sistem pendidikan di tiap negara hampir sama, hanya mungkin istilah-istilahnya saja yang berbeda. Sistem pendidikan manusia itu tertuang dengan diselenggarakannya pendidikan secara berjenjang. Atmosfir atau suasana pencarian keilmuan dari tiap jenjang pendidikan tentu saja sangat berbeda. Hal ini juga disebabkan oleh konteks ruang dan waktu yang sangat mempengaruhi para generasi pencari ilmu. Mungkin dapat dikatakan bahwa jenjang pendidikan yang menjadi pusat pencarian ilmu sebanyak-banyaknya adalah di universitas. Pada saat kita berada di universitas, umur kita paling tidak sudah dewasa sehingga dapat menyerap ilmu pengetahuan secara maksimal.  Ditambah lagi, masa muda adalah masa emas di mana semua organ dalam tubuh kita, khususnya otak bekerja pada masa gemilangnya.
Di Indonesia, masalah keilmuan di kampus bisa dikatakan sudah terjadi disorientasi. Ukuran keilmuan di kalangan akademisi mengalami orientasi yang melenceng jauh. Alih-alih para mahasiswa yang seharusnya dimasukkan dalam atmosfir belajar yang kondusif dan nyaman malah dianalogikan sebagai robot kampus. Hal ini bisa kita lihat dengan aktivitas para mahasiswa yang masuk kampus mempunyai beban memenuhi sekian SKS untuk bisa lulus. SKS per semesternya juga ternyata sudah dipaket oleh universitas berdasarkan kurikulum terbaru yang berdasarkan kompetensi. Tujuan para mahasiswa yang kuliah di kampus tidak lagi mendapat ilmu sebanyak-banyaknya, tetapi dapat lulus semua mata kuliah dengan nilai yang bagus dan mengurangi beban SKS.
Menilik lebih dalam mengenai kondisi perkuliahan di kampus, maka akan membuat kita semakin prihatin mengenai kondisi keilmuan di negeri kita. Kondisi keilmuan yang sepihak saja seperti halnya mendengar khotbah dosen hanya membuat keilmuan kita mandek. Keilmuan kita tidak berkembang karena mahasiswa hanya menyantap apa yang diberikan dosen, bahkan para mahasiswa itu malas untuk mengembangkan ilmu di luar kampus. Kultur tanya-jawab juga belum bisa terbentuk dan menjadi kebiasaan sama sekali. Anehnya, ketika ada satu dua mahasiswa yang berjiwa kritis dan bertanya kepada dosen, teman-teman mahasiswa yang lain bukannya berterima kasih karena keilmuan mereka akan bertambah, tapi sebaliknya mereka kadang sinis dan mengejek mahasiswa yang bertanya tersebut. Mereka menganggap bahwa pertanyaan temannya itu tidak penting dan hanya akan  membuat mereka terperangkap dalam ruang kelas lebih lama, padahal mereka sudah ingin cepat-cepat nongkrong di kantin kampus.
Kultur diskusi dan membaca dalam ruang kampus pun menjadi fenomena langka. Ketika dosen memberi mereka tugas, tugas-tugas tersebut dikerjakan berdasarkan konsultasi dengan internet terutama google.com. Bagi mereka, tugas itu adalah masalah sepele. Mereka  hanya melakukan copy  and paste bahan dari internet. Sedangkan ketika tugas ini adalah tugas kelompok, para mahasiswa yang mengerjakan tugas tersebut bukan semuanya, tapi malah mahasiswa tertentu yang rajin dan mahasiswa yang lain hanya ikut nama. Dalam kultur membaca pun para mahasiswa di kampus seakan tidak bergairah. Bacaan buku mereka tidak banyak. Mereka hanya tahu membaca buku-buku bahan kuliah dosen, itu saja yang sudah diringkas sehingga yang terpenting bagi mereka, mereka tahu inti dari mata kuliah dosen.
Sungguh sangat memprihatinkan, ternyata kondisi keilmuan di kampus mengalami disorientasi atau pergeseran yang sangat radikal. Kuliah tidak lagi mencari ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan diri sendiri maupun orang lain, tapi malah bertujuan untuk mendapat nilai bagus guna  akhirnya nanti setelah lulus dari kampus mudah mendapat pekerjaan. Terlebih lagi program CDC (Career Development Center) sekarang sudah banyak digelontorkan oleh pihak universitas. Universitas yang seharusnya menjadi duta penting dalam mengembangkan keilmuan di kampus malah menjadi antek-antek pemilik modal, menyediakan tenaga kerja untuk perusahaan-perusahaan yan tergabung dalam CDC universitas. Para mahasiswa pun tidak lagi berfikir mengembangkan ilmu sesuai bidang mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar