Selasa, 22 November 2011

IBU MENYUSUI DAN IRONI PEREMPUAN MODERN

Ibu, suatu kata yang akan membuat kita tersentuh, karena akan mengingatkan kita pada seorang perempuan yang lembut dan tangguh, yang menjadi sumber kehidupan, cinta dan kasih di kala kita masih janin, bayi, anak-anak dan bahkan sampai kita dewasa. Ibu, sosok yang tanpa pamrih melakukan hal-hal heroik, yang mungkin hanya tuhan yang tahu. Hal-hal yang membuatnya kerepotan, bertukar nyawa sekalipun dalam merawat, mendidik kita sehingga kita menjadi manusia yang baik dan benar.
Namun, ibu yang pada zaman dahulu mempunyai peran sangatlah dominan dalam mengasuh, mendidik dan membesarkan anaknya, kini bergeser pada sebuah ironi kenyataan yang mengatasnamakan “keprofesionalitasan” manusia karier di  zaman modern seperti ini. Ibu sepertinya sekarang mempunyai peran ganda, antara keluarga dan karier dalam pekerjaan. Peran ini sesungguhnya tidaklah menjadi sebuah masalah. Namun, jika pelaksanaannya tumpang tindih dan tidak seimbang, maka ini akan menjadi sebuah masalah yang besar.
Peran ganda dari ibu yang juga seorang perempuan karier ini memang tidak pernah lepas dari sejarah masa lalu di mana perempuan selalu dipingit dan tidak diperkenankan merambah dunia pekerjaan, yang pada waktu itu selalu diasosiasikan dengan dunia lelaki. Perempuan seakan gerah dan sudah bosan dibodohi, hingga tiba waktunya kaum perempuan menggelorakan emansipasi sejak awal abad ke-20. Kartini mengangkat ketidakadilan ini ke permukaan, ke ranah publik yang dulu mencemooh dan mengamini seluruh tindakan perpingitan bagi perempuan. Kartini sesungguhnya tahu betul bahwa jika keadaan ini berjalan terus menerus, maka posisi perempuan akan semakin tertindas, bahkan setelah sistem patriakhi sudah mendarah daging di masyarakat. Perempuan terkesan hanya menjadi penghibur dan penghasil anak tanpa tahu kehidupan luar seperti apa. Di Jawa saja, banyak ungkapan mengejek jika perempuan berani melangkahkan kaki keluar rumah.
Terkait keadaan perempuan yang dulu terbelenggu dan sekarang sudah mendapat secercah, bahkan segelondong harapan, perempuan di zaman sekarang malah seperti kehilangan jati dirinya, karena terlalu beradaptasi dengan dunia luar itu sendiri. Dunia dalam yang melatari kodrat perempuan seakan-akan makin memudar dan mungkin hampir hilang kejatidiriannya. Hal ini diperkuat dengan adanya dan banyaknya gerakan perempuan ingin menyamakan posisinya seperti lelaki. Keinginan itu sah-sah saja, tapi ketika perempuan itu sendiri sudah melupakan kodratnya sendiri untuk mengasuh dan mengurus keluarganya, maka akan lain persoalannya.
Baru-baru ini dalam berbagai  surat kabar di Indonesia digegerkan dengan adanya suatu gerakan dari pemerintah untuk para ibu. Program itu dinamai program ibu menyusui nasional. Program ini digalakkan le seluruh daerah di Indonesia. Kalau kita menelisik lebih dalam tentang latar belakang pencanangan gerakan itu, maka kita akan menyadari bahwa peran ibu dalam dunia modern ini sungguh sangat ironis.. Bukankah kita semua tahu, kodrat perempuan memang menyusui anaknya selama 2 tahun, sebelum anak itu disapih? Tapi karena tuntutan pekerjaan dan berbagai mitos yang tidak masuk akal, membuat para ibu memberi anaknya susu kaleng. Para ibu modern itu berdalih bahwa kalau menyusui itu nanti payudaranya kendorlah, menghalangi program diet mereka setelah melahirkanlah, tuntutan pekerjaanlah. Akhirnya ada ibu  yang rela meninggalkan anak mereka untuk diasuh baby sitter. Sungguh ironi sekali. Lalu apakah hal ini yang dinamakan peran ibu sesungguhnya, jika menyusui saja para ibu sudah alergi??
Kalau kita pahami dan teliti lebih dalam, sebenarnya kodrat perempuan yang sudah dituliskan berabad-abad silam itu, khusunya dalam hal ini menyusui merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kaum ibu itu sendiri, dan seharusnya ibu-ibu modern sekarang ini bersikap cerdas dalam segala hal termasuk dalam hal menyusui anak mereka. Fakta di lapangan tentang ibu menyusui menyebutkan, bahwa dengan menyusui para ibu sudah memperkecil risiko terkena kanker payudara, darah tinggi, diabetes, kolesterol, dan penurunan berat badan setelah melahirkan.
Jadi, sangat bodoh jika para ibu menghentikan menyusui anak mereka dengan dalih-dalih tidak masuk akal. Lagipula, anak yang disusui sendiri oleh ibunya cenderung lebih cerdas dan sehat. Bukankah Tuhan memang sudah mengatur peran ibu sedemikian rupa, jika ibu itu sadar dan paham akan hal itu? Jangan hanya dengan dalih profesionalisme pekerjaan dan tuntutan peran ibu modern, maka para ibu tidak peduli lagi tentang buah hati mereka. Bukankah hal-hal terbaik pantas diberikan kepada mereka, para bayi generasi penerus bangsa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar