Selasa, 22 November 2011

MEREKONSTRUKSI PEREMPUAN

Perempuan di mata masyarakat umum adalah makhluk yang lemah, butuh perlindungan laki-laki. Sebagian berkata memang itulah garis takdir perempuan, selalu menjadi the second sex. Namun, jika kita melihat kaitan antara perempuan dan distribusi kekuasaan yang mengelilinginya sehari-hari dengan cermat, maka cakrawala pandang kita pun akan berubah.
Cakrawala pandang masyarakat mengenai perempuan sudah sangat lazim bahwa perempuan adalah makhluk yang selalu menjadi korban dan dikorbankan. Bahkan, budaya yang melingkupi kita, baik itu budaya Jawa, China, Arab, dan lain-lain, selalu mewariskan tradisi pemingitan kaum perempuannya supaya memang berada dalam area domestik. Mereka menganggap pembagian distribusi kerja perempuan memang berada di dalam wilayah itu. Tradisi kebudayaan ini dipegang teguh sampai tiba saatnya ada beberapa perempuan yang mendobrak semua itu, mendobrak tradisi kebudayaan yang ada, perempuan mulai mempunyai suaranya sendiri.
Perempuan mempunyai suaranya sendiri ketika perempuan mulai menyadari dan menyuarakan hak-hak mereka tentang kesetaraan yang selama ini tidak mereka peroleh. Perjuangan ini digelontorkan perempuan dengan sebuah gerakan bernama feminisme. Feminisme walaupun sangat berat, tapi selalu diusahakan perempuan manapun di berbagai belahan  dunia. Namun, ketika gerakan perempuan sudah mendapat pengakuan kesetaraan dari lelaki, perempuan menjadi bermakna bias bagi dirinya sendiri.
Pembiasan makna sudah sangat merebak banyak sekali di zaman modern hingga postmodern sekarang ini. Banyak perempuan yang mulai mengalami gegar kesetaraan. Perempuan mulai tersesat atas dasar pengakuan kesetaraan yang diperoleh. Zaman sekarang, zaman di mana budaya massa merebak, para perempuan dengan pengakuan kesetaraannya banyak ditelikung dan dipenjara bias makna perempuan sendiri tanpa disadari.
Budaya massa seperti kita ketahui bersama adalah budaya yang diproduksi massal karena budaya ini sangat laris di pasaran. Asas utama budaya ini adalah asas kapitalistik, di mana asas yang mementingkan keuntungan para pemilik modal sebanyak-banyaknya.
Budaya massa yang sekarang ini banyak menelikung perempuan berasal dan menyerang berbagai lini kehidupan. Budaya massa menyerang tubuh perempuan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bisa kita bayangkan bahwa produk budaya massa yang menyerang perempuan, mulai dari gaya rambut, konsepsi kecantikan yang harus dibayar mahal perempuan dengan sangat ketat menggunakan produk kecantikan kulit hingga ada beberapa yang operasi plastik. Bentuk badan ideal yang harus dipenuhi pun ketika tidak proporsional ada teh herbal pelangsing badan yang bisa digunakan. Sepatu yang perempuan pakai yang selalu berganti mode dari yang terepes hingga yang ber-hak 10 cm. Model baju yang harus selalu mengikuti model terkini).
Perempuan dalam kasus budaya massa ini selalu mendapat posisi korban atau sasaran empuk lingkaran kapitalistik. Bahkan, siaran-siaran dan iklan-iklan di televisi, jalan, pasar ikut mengindoktrinasi perempuan secara kasat mata. Hingga ada suatu pembuktian bahwa indoktrinasi itu berhasil, para perempuan yang mendapat gaji atau mendapat jatah gaji dari suami tidak segan-segan membeli produk-produk massa/ populer, walaupun mereka kadang tidak membutuhkannya. Mereka membeli produk massa karena tuntutan gaya hidup. Di sinilah perempuan menempatkan diri atau tepatnya merelakan diri sebagai korban budaya massa secara sukarela.
Namun, penempatan diri perempuan sebagai korban atas budaya massa yang kapitalistik bisa kita rubah dengan mendekonstruksi cakrawala pandang kita sebagai perempuan. Posisi kita sebagai koban bisa kita rubah menjadi seorang pelaku. Kita perempuan memang sangat sulit meresistensi adanya budaya massa yang ada di sekeliling kita, namun dengan perubahan paradigma bahwa kita sebagai pelaku bukan korban akan membuat kita menjadi lebih bermartabat. Distribusi subyektifitas kekuasaan ini kita rubah sedemikian rupa karena kita memandang budaya massa sebagai alat saja. Contoh , seorang perempuan menerima maraknya budaya massa perawatan kecantikan dengan apa adanya. Bahkan, dia menggunakan teknologi kecantikan tersebut untuk membuat kecantikannya lebih terpancar dan pada akhirnya kehidupannya akan serta merta menjadi mulus. Efek-efek yang timbul akibat terpancarnya kecantikan akan memberi perempuan berbagai keuntungan dalam berbagai lini, sehingga yang pada awalnya kita menganggap diri sebagai korban, malah akan berputar 180 derajad pada waktu singkat dengan perubahan cakrawala pandang kita. Sedikit perubahan cara berpikir membuat perempuan lebih bisa memaknai kehidupannya dan pada akhirnya para perempuan bisa merekonstruksi posisinya menjadi pelaku. 

2 komentar:

  1. asnii, esai menarik. Sebenernya bukan cuma citra perempuan (cantik) aja yang jadi 'korban' konstruksi sosial ya. Tapi juga 'kodrat' yang dipahami masyarakat secara sempit. Parahnya, ini seolah-olah dipatenkan oleh ajaran agama yang ditafsir sembarang secara tekstual, bukan kontestual.
    Nice writing! Ayokkk nyampe Indo harus ketemu kitaaah :D
    ketjup basah :*

    BalasHapus
  2. makasiiiii kikiiii :* tulisanku yang lama masi acak adut, tp keknya pesan yg mau kusampein dlm tulisanku kena jugag :D
    iyaa kik, tentuuu kalo balik aku mau ketemu kamu kiiik, kangen ;) mau ketemu kalian (?) jugag :)
    kecup :*

    BalasHapus